Pasar pagi Yobuko atau Yobuko Asaichi buka setiap hari tanpa libur, mulai pukul 07.30 sampai sekitar jam 12 siang, di sepanjang jalan sempit bernama Asaichi-dori yang panjangnya sekitar 400 meter. Kalau sudah niat datang, jangan sampai kesiangan ke sana lewat jam 10 pagi karena ikan paling segar biasanya habis duluan dan sebagian pedagang mulai beres-beres lapak mereka.

Di Mana Sebenarnya Yobuko Itu

Yobuko bukan kota mandiri, melainkan bagian dari Kota Karatsu, Prefektur Saga, di pesisir utara Pulau Kyushu yang menghadap Laut Genkai. Dulu Yobuko adalah kota pelabuhan ikan yang berdiri sendiri sebelum digabung ke Karatsu. Jalan Asaichi-dori ini posisinya persis di dekat pelabuhan, jadi bau laut dan suara mesin kapal nelayan jadi latar belakang alami saat jalan-jalan di sana. Pasar ini sering disebut salah satu dari tiga pasar pagi terbesar di Jepang, berdampingan dengan pasar Wajima di Semenanjung Noto dan pasar Katsuura di Chiba, meski ukurannya memang jauh lebih kecil dan lebih personal dibanding dua lainnya.

Cara Menuju Yobuko dari Fukuoka atau Karatsu

Rute paling umum adalah naik kereta dari Stasiun Hakata ke Stasiun Karatsu menggunakan JR Chikuhi Line, perjalanan sekitar 1 jam 20 menit dengan tarif kurang lebih 1.170 yen sekali jalan. Dari Stasiun Karatsu, sambung naik bus Showa Bus jurusan Yobuko, waktu tempuhnya sekitar 25-30 menit dengan ongkos sekitar 600 yen, turun di halte Yobuko. Kalau bawa mobil sendiri atau sewa rental, dari pusat Kota Karatsu lewat Rute 204 hanya butuh waktu sekitar 25 menit, dan ada beberapa kantong parkir umum berbayar di dekat pasar dengan tarif harian sekitar 300-500 yen. Saran saya, kalau mengandalkan bus, cek jadwal dulu karena di hari kerja frekuensinya tidak terlalu sering, bisa cuma satu jam sekali.

Suasana dan Barang Dagangan di Pasar

Ada sekitar 100 lapak di sepanjang Asaichi-dori, mulai dari ikan segar hasil tangkapan pagi itu juga, cumi kering (surume), ikan asin, hingga jeruk mikan dan sayuran lokal yang dijual langsung oleh para obaasan pemilik lapak. Banyak pedagang di sini sudah berjualan turun-temurun, dan beberapa dari mereka memang sudah berusia lanjut, jadi suasananya terasa lebih seperti pasar kampung nelayan ketimbang tempat wisata yang dipoles. Jangan kaget kalau ditawari mencicipi potongan ikan asin atau cumi kering gratis—ini hal biasa di sana, dan menawar harga dengan sopan juga masih lazim dilakukan, terutama kalau beli dalam jumlah banyak.

Ikizukuri, Cumi Hidup yang Jadi Alasan Orang Datang Jauh-jauh

Spesialisasi Yobuko adalah kensaki-ika, sejenis cumi lokal yang disajikan sebagai ikizukuri alias sashimi cumi yang masih hidup atau baru saja dipotong, tentakelnya kadang masih bergerak-gerak di piring. Beberapa restoran yang cukup dikenal di sekitar pelabuhan antara lain Yobuko Ika no Ichiban dan Genkai Ichiba Shokudo, dengan paket set menu ikizukuri teishoku berkisar 2.500-3.800 yen, biasanya sudah termasuk nasi, sup miso, dan sisa badan cuminya digoreng tempura atau dibuat tersuji untuk pelengkap. Teksturnya renyah dan sedikit kenyal, rasanya manis alami tanpa amis sama sekali kalau memang benar-benar segar. Satu hal yang perlu diketahui: pada musim dingin sekitar Desember-Februari, pasokan kensaki-ika segar menurun drastis karena bukan musimnya, jadi beberapa restoran terpaksa menggunakan cumi beku atau jenis cumi dari daerah lain—kalau mau ikizukuri paling autentik, datang saja antara akhir musim semi sampai musim gugur.

Tempat Lain di Sekitar Yobuko yang Sayang Dilewatkan

Jalan kaki sekitar 10 menit dari pasar, ada Jembatan Yobuko Ohashi, jembatan gantung sepanjang 728 meter yang menghubungkan daratan utama dengan Pulau Kabeshima. Jembatan ini terkenal sedikit bergoyang kalau angin kencang, jadi warga lokal suka menyebutnya jembatan goyang. Di Pulau Kabeshima sendiri, kalau datang sekitar akhir Maret sampai pertengahan April, ada hamparan bunga nanohana atau bunga canola kuning yang mekar di perbukitan pulau, kontras dengan birunya laut di bawahnya—pemandangan ini jadi spot foto favorit fotografer lokal. Selain itu, sekitar 20 menit berkendara dari Yobuko ada reruntuhan Kastil Nagoya atau Nagoya Castle Ruins, bukan Nagoya yang di Prefektur Aichi, melainkan benteng yang dibangun Toyotomi Hideyoshi sebagai markas invasi ke Semenanjung Korea. Di sana ada museum kecil bernama Saga Prefectural Nagoya Castle Museum yang bisa dikunjungi gratis, menyimpan artefak dan catatan sejarah periode tersebut.

Tips Praktis Sebelum Berangkat

  • Bawa uang tunai yen secukupnya karena sebagian besar lapak di pasar pagi tidak menerima kartu atau e-money sama sekali.
  • Datang di hari kerja seperti Selasa atau Rabu kalau ingin suasana lebih sepi, karena akhir pekan dan musim liburan sekolah Jepang ramai sekali oleh wisatawan domestik.
  • Pakai sepatu yang nyaman untuk jalan di permukaan yang kadang basah dan licin akibat air dari lapak ikan.
  • Kalau mau makan ikizukuri, datang lebih awal sekitar jam 11 pagi sebelum jam makan siang ramai, karena beberapa restoran kecil hanya punya kapasitas 15-20 kursi.
  • Cuaca di Yobuko bisa cukup berangin karena posisinya langsung menghadap laut terbuka, jadi bawa jaket tipis meski sedang musim panas.

Catatan Penutup

Satu hal yang jarang disebutkan di artikel lain: kalau rencana perjalanan mepet waktu dan cuma punya satu hari untuk eksplor Karatsu-Yobuko, prioritaskan datang ke pasar pagi dulu sebelum jam 10, baru lanjut makan siang ikizukuri, karena urutan sebaliknya sering bikin wisatawan kehabisan waktu untuk benar-benar menikmati suasana pasar yang justru paling hidup di jam-jam awal. Selain itu, perlu diingat bahwa beberapa lapak tutup lebih cepat kalau dagangannya sudah habis terjual, jadi jangan terlalu berpatokan kaku pada jam tutup resmi—di pasar tradisional seperti ini, stok yang menentukan, bukan jam di papan nama.

Photo by Benjamin Wong on Unsplash