Kalau Anda browsing rute ke Kastil Maruoka, hal pertama yang perlu diketahui: naik bus Keifuku jurusan “Maruoka-jo Line” dari depan JR Fukui Station (pintu keluar timur, halte bus nomor 6), perjalanan sekitar 40 menit dengan ongkos 620 yen sekali jalan, turun di halte Maruoka-jo lalu jalan kaki 5 menit menanjak. Ini bukan kastil yang bisa disinggahi sambil lewat seperti Himeji atau Matsumoto—lokasinya di Sakai City, pinggiran Fukui, jadi butuh niat khusus untuk ke sana. Tapi justru karena itu pengunjungnya tidak pernah ramai berlebihan, bahkan saat musim sakura.

Kenapa Disebut Kastil Tertua di Jepang

Klaim “tertua” ini sebenarnya agak rumit dan saya pikir penting untuk jujur soal ini daripada sekadar mengulang slogan pariwisata. Menara utama (tenshu) Kastil Maruoka lama dipercaya dibangun tahun 1576 oleh Shibata Katsutoyo, keponakan Shibata Katsuie, menjadikannya tenshu tertua yang masih berdiri di antara 12 tenshu asli Jepang (genzon junidenshu). Namun penelitian dendrokronologi atau pengukuran lingkaran kayu pada struktur atap yang dilakukan beberapa tahun lalu menunjukkan kemungkinan bangunan ini direnovasi besar-besaran atau dibangun ulang sekitar tahun 1620-an setelah gempa, bukan murni bangunan abad ke-16. Pihak kota Sakai sendiri tetap mempertahankan narasi tertua karena fondasi dan desain dasarnya memang dari era Sengoku. Jadi anggap saja ini kastil dengan salah satu sejarah paling kontroversial di Jepang, bukan sekadar bangunan tua biasa.

Atap Batu Ishigawara yang Tidak Ada di Kastil Lain

Detail yang paling saya ingat dari kunjungan ke Maruoka adalah atapnya. Alih-alih genteng keramik seperti kastil-kastil lain, atap Kastil Maruoka terbuat dari lempengan batu andesit lokal yang disebut ishigawara, dengan total sekitar 6.000 lembar batu menutupi tiga lapis atap. Alasannya praktis: Fukui adalah salah satu daerah bersalju terberat di Honshu bagian barat, dan genteng keramik biasa mudah retak kena pembekuan di musim dingin. Batu ishigawara ini membuat beban total menara jadi sangat berat, yang menurut petugas museum di sana adalah alasan kenapa struktur kayunya dibuat relatif pendek dan kokoh dibanding tenshu lain. Ini satu-satunya kastil di antara 12 tenshu asli yang pakai sistem atap seperti ini.

Legenda Kabut dan Sumur O-Shizu

Nama alternatif kastil ini, Kasumi-ga-jo (Kastil Kabut), berasal dari legenda lokal yang masih diceritakan pemandu di sana. Konon saat kastil dikepung musuh, seekor ular besar keluar dari sumur di dalam area kastil dan menyemburkan kabut tebal untuk menyembunyikan benteng dari pandangan musuh. Versi lain cerita ini melibatkan seorang wanita bernama O-Shizu yang dikorbankan sebagai fondasi hidup (hitobashira) saat pembangunan menara, dan arwahnya konon muncul sebagai kabut setiap kali kastil terancam. Sumur yang disebut sebagai lokasi legenda ini, Ippeki-no-Ike, masih bisa dilihat di halaman kastil, ditandai dengan papan informasi kecil berbahasa Jepang dan Inggris.

Taman Kasumigajo dan Musim Sakura

Area sekitar kastil, Taman Kasumigajo Koen, masuk dalam daftar 100 Tempat Sakura Terbaik Jepang (Sakura Meisho 100 Sen) dengan sekitar 400 pohon sakura jenis Somei Yoshino yang ditanam mengelilingi parit dan lereng bukit kastil. Puncak mekarnya biasanya terjadi akhir Maret hingga awal April, sekitar satu minggu lebih lambat dibanding Kyoto karena posisi Fukui yang lebih ke utara. Saat malam, ada ilumiasi bambu dan lampion kertas sepanjang jalur menuju kastil selama periode mekar, meski festivalnya skala kecil dibanding Hirosaki atau Himeji—justru ini yang membuat suasananya terasa lebih seperti festival warga lokal daripada atraksi turis.

Jam Buka, Tiket, dan Fasilitas

Kastil buka setiap hari pukul 08:30 hingga 17:00 pada periode April sampai Oktober, dan pukul 09:00 hingga 16:00 selama November sampai Maret (loket tutup 30 menit sebelum jam tutup). Tiket masuk menara utama sekitar 450 yen untuk dewasa, 150 yen untuk anak SD-SMP. Ada juga tiket gabungan dengan Rekishi Minzoku Shiryokan (museum sejarah dan folklor Sakai City) yang letaknya tepat di sebelah kastil, harganya sekitar 500 yen jika dibeli bersamaan. Perlu dicatat, tangga di dalam menara sangat curam—kemiringannya sekitar 65 derajat, jadi ada tali pegangan di kedua sisi dan dilarang membawa tas besar atau koper naik ke atas. Kalau membawa koper, bisa dititip di loket tiket tanpa biaya tambahan.

Kuliner dan Oleh-Oleh di Sekitar Kastil

Tepat di kaki bukit kastil ada michi-no-eki kecil bernama Oshiro no Eki Banba yang jual oleh-oleh dan makanan ringan, termasuk soba oroshi khas Fukui dengan lobak parut dan katsuobushi, harganya sekitar 700-900 yen semangkuk. Yang menarik, kota Maruoka sendiri adalah rumah bagi pabrik sake Ippongi Shuzo, salah satu produsen sake tertua di Fukui yang masih beroperasi, dan beberapa toko di sekitar area kastil menjual botol sake mereka mulai dari 1.500 yen untuk ukuran 300ml. Kalau punya waktu lebih, jalan kaki sekitar 15 menit dari kastil ke arah barat ada toko kue tradisional kecil yang jual manju isi kacang merah khas daerah ini, meski tidak punya nama besar atau sertifikasi turis, rasanya lebih otentik dibanding manju yang dijual di area kastil-kastil besar seperti Himeji.

Tips Praktis Sebelum Berkunjung

Satu hal yang sering luput dari artikel lain: jadwal bus Keifuku dari Fukui Station ke Maruoka tidak terlalu sering, biasanya hanya sekitar 1 bus per jam pada jam sibuk dan lebih jarang di siang hari, jadi cek jadwal terbaru di loket informasi wisata dekat pintu keluar JR Fukui Station sebelum berangkat supaya tidak menunggu lama di halte. Kalau menyewa mobil, dari Fukui ke Maruoka hanya sekitar 30 menit lewat jalan tol Hokuriku, keluar di Maruoka IC, dan parkir di kastil gratis untuk pengunjung. Musim dingin Desember-Februari juga perlu diwaspadai karena salju bisa menutupi jalan setapak menuju kastil dan membuat tangga menara jadi licin—bawa sepatu dengan sol anti-slip kalau berkunjung di periode ini, karena pihak kastil tidak menyediakan alas kaki tambahan seperti di beberapa kuil besar.

Photo by Bo Zhang on Unsplash