Jawaban singkatnya: toshikoshi soba harus sudah habis dimakan sebelum lonceng tengah malam berbunyi di tanggal 31 Desember, bukan sesudahnya. Banyak orang Indonesia yang baru pertama kali merayakan Oshogatsu di Jepang salah kaprah mengira soba ini boleh disantap kapan saja selama malam tahun baru, padahal justru momen setelah jam 00:00 adalah waktu yang menurut kepercayaan lokal sudah “kedaluwarsa” maknanya. Di Kanda Yabu Soba, salah satu kedai soba tertua di Tokyo yang berdiri sejak era Edo dan berlokasi tiga menit jalan kaki dari Kanda Station (JR Chuo Line, Chuo-Sobu Line, dan Tokyo Metro Ginza Line), antrean toshikoshi soba justru memuncak antara pukul 20:00 hingga 23:00, bukan setelah tengah malam.

Kenapa Waktunya Tidak Boleh Sembarangan

Filosofi di balik toshikoshi soba (secara harfiah berarti “soba penyeberang tahun”) adalah memutus hal-hal buruk dari tahun yang akan berakhir. Tekstur mi soba yang mudah putus saat digigit dianggap melambangkan pemutusan kesialan, utang, dan masalah dari tahun lama sebelum memasuki tahun baru. Karena fungsinya sebagai ritual penutup tahun lama, logikanya soba ini harus selesai disantap sebelum tahun lama benar-benar berakhir. Kalau sampai terbawa makan setelah lewat tengah malam, banyak orang Jepang generasi lama di Kyoto maupun Tokyo percaya maknanya jadi terbalik, bukan membuang kesialan tapi malah membawa masuk nasib buruk ke tahun baru.

Jam yang Paling Umum Dipakai Orang Jepang

Dari pengamatan saya selama beberapa kali melewati akhir tahun di Tokyo, pola waktu makan toshikoshi soba di rumah tangga Jepang biasanya mengikuti tiga rentang berikut:

  • Pukul 18:00–20:00: pola keluarga dengan anak kecil, biasanya digabung dengan makan malam utama sambil menonton acara Kohaku Uta Gassen di NHK.
  • Pukul 21:00–23:00: pola paling populer di kalangan pekerja kantoran yang baru pulang dari shigoto osame (hari kerja terakhir tahun itu), sering sambil menunggu hitung mundur di televisi.
  • Pukul 23:00–23:45: pola orang yang sengaja menunda agar momen makan soba berdekatan dengan joya no kane, yaitu 108 kali pukulan lonceng kuil Buddha yang dimulai menjelang tengah malam. Di Kuil Zojoji dekat Tokyo Tower, lonceng ini biasanya mulai dibunyikan sekitar pukul 23:45 dan berlangsung hingga sedikit melewati pukul 00:00.

Yang penting dicatat: walau joya no kane sendiri terus berbunyi hingga lewat tengah malam, soba-nya sendiri idealnya sudah masuk perut sebelum lonceng pertama. Jadi kalau Anda berencana makan sambil mendengarkan lonceng dari rumah atau dari area sekitar kuil, pastikan mangkuk soba sudah kosong sebelum pukul 23:45.

Beda Kebiasaan Antarwilayah

Di Tokyo dan sekitar Kanto, toshikoshi soba umumnya disantap sebagai hidangan terpisah menjelang malam, kadang sebagai camilan ringan setelah makan malam besar. Tapi di Kansai, khususnya Kyoto, saya pernah diajak makan di Honke Owariya, kedai soba yang menurut catatan keluarga pemiliknya sudah beroperasi sejak tahun 1465 di kawasan Teramachi dekat Istana Kekaisaran Kyoto. Di sana toshikoshi soba justru sering dijadikan menu utama makan malam terakhir tahun itu, bukan camilan, dan disajikan hangat dengan kuah dashi kombu yang lebih ringan dibanding kuah berbasis katsuobushi khas Tokyo. Harga satu porsi toshikoshi soba musiman di Honke Owariya berkisar ¥1,800–¥3,500 tergantung topping, dan karena permintaan sangat tinggi di akhir Desember, reservasi untuk sesi makan malam tanggal 31 biasanya sudah penuh sejak pertengahan bulan.

Kalau Makan di Kedai, Jam Buka yang Perlu Diperhatikan

Beberapa kedai soba di Tokyo mengubah jam operasional khusus di tanggal 31 Desember. Sarashina Horii di Azabu-Juban, sekitar 5 menit jalan kaki dari Azabu-Juban Station (Tokyo Metro Namboku Line dan Toei Oedo Line), biasanya tutup lebih awal dibanding hari biasa, sekitar pukul 20:00, karena stok soba buatan tangan mereka terbatas dan sering habis lebih cepat menjelang akhir tahun. Sebaliknya, kedai-kedai di kawasan Kanda dan Asakusa justru memperpanjang jam buka hingga 22:00 atau 23:00 untuk menampung pekerja kantoran yang baru selesai kerja. Harga satu mangkuk toshikoshi soba standar di kedai-kedai ini berkisar ¥900–¥1,800, sedangkan versi mewah dengan tempura ebi besar bisa mencapai ¥2,500.

Opsi Praktis: Soba dari Minimarket

Kalau Anda tidak sempat ke kedai khusus, Lawson dan 7-Eleven di seluruh Jepang menjual paket toshikoshi soba kemasan mulai sekitar pertengahan Desember, dengan harga rata-rata ¥500–¥800 per paket termasuk kuah instan dan topping kamaboko. Paket ini biasanya baru dipajang di rak khusus musiman dekat kasir sejak tanggal 20-an Desember, dan stoknya sering ludes di tanggal 30-31 karena banyak orang membeli di menit-menit terakhir. Kalau berencana pakai opsi ini, lebih aman berbelanja pada tanggal 28 atau 29 Desember, bukan menunggu hari H, karena beberapa cabang kecil bahkan kehabisan sejak sore tanggal 30.

Yang Sebaiknya Dihindari

Hindari menunda makan soba ini sampai sudah masuk tanggal 1 Januari meski hanya selisih beberapa menit. Ini berbeda dengan hidangan osechi ryori yang justru disiapkan untuk disantap di hari pertama tahun baru. Toshikoshi soba punya fungsi simbolis yang berlawanan arah waktu, jadi menyimpannya untuk sarapan tanggal 1 dianggap kurang tepat secara makna meski secara rasa tidak masalah. Kalau Anda terjebak macet atau antrean panjang di kedai populer dan khawatir tidak sempat makan sebelum tengah malam, pilihan paling realistis adalah beralih ke paket minimarket yang bisa disiapkan dalam 5-10 menit di penginapan.

Catatan Praktis untuk Wisatawan

Satu hal yang jarang disebut di artikel lain: kalau Anda menginap di area seperti Shinjuku atau Shibuya dan berencana ikut acara hitung mundur di luar ruangan, banyak restoran di sekitar stasiun besar justru tutup lebih awal, sekitar pukul 21:00-22:00, karena staf mereka juga ingin merayakan tahun baru bersama keluarga. Jadi kalau target Anda adalah makan toshikoshi soba di kedai sungguhan sambil tetap sempat ke acara luar ruangan, rencanakan makan malam paling lambat pukul 20:00, sisakan waktu untuk perjalanan ke lokasi acara, baru menonton hitung mundur sambil mendengar lonceng joya no kane dari kejauhan.

Photo by Crystal Jo on Unsplash