Kalau Anda mencari kamar hotel bertema zen di komplek Engakuji, saya harus luruskan dulu dari awal: Engakuji tidak punya shukubo komersial seperti di Koyasan. Yang tersedia adalah program zazen menginap di Kojirin (居士林), bangunan khusus untuk latihan meditasi umat awam yang terletak di area utara komplek, agak tersembunyi di balik pepohonan momiji, terpisah dari rute wisata utama menuju Butsuden dan Shariden. Saya ikut program ini pada akhir pekan pertama bulan, dan ini yang perlu Anda tahu sebelum mendaftar.

Apa Sebenarnya Program Menginap di Kojirin Itu?

Kojirin awalnya adalah asrama mahasiswa Tokyo Imperial University (sekarang Universitas Tokyo) yang dipindahkan ke Engakuji pada era Taisho untuk dijadikan tempat latihan zazen bagi masyarakat umum, bukan hanya biksu. Jadi ini bukan penginapan dalam arti turistik, melainkan sesi pelatihan singkat (biasanya disebut zazenkai menginap atau sesshin mini) yang kebetulan menyediakan tempat tidur berupa futon di aula tatami besar, bukan kamar privat. Saya tidur berdampingan dengan sembilan peserta lain, laki-laki dan perempuan dipisahkan tirai kain sederhana.

Lokasi dan Akses ke Engakuji

Engakuji beralamat di 409 Yamanouchi, Kamakura, Prefektur Kanagawa, dan pintu masuknya cuma satu menit jalan kaki dari pintu keluar utara Stasiun Kita-Kamakura (JR Yokosuka Line). Dari Stasiun Tokyo naik JR Yokosuka Line langsung tanpa transit, sekitar 55-60 menit. Dari Stasiun Kamakura cuma satu stasiun, 3 menit naik kereta, atau sekitar 20-25 menit jalan kaki menyusuri Kamakura Kaido kalau mau sekalian lihat Tokeiji dan Jochiji di sepanjang jalan. Gerbang sanmon Engakuji terlihat begitu keluar dari stasiun, jadi tidak mungkin nyasar.

Cara Mendaftar Program Menginap

Ini bagian yang paling bikin frustrasi kalau Anda tidak bisa bahasa Jepang: pendaftaran Kojirin tidak bisa online. Saya mengirim kartu pos (ofuku hagaki) ke kantor pengurus Engakuji dua bulan sebelumnya, mencantumkan nama, alamat, nomor telepon, dan tanggal sesi yang diinginkan. Kuota per sesi sekitar 20-30 orang dan sering penuh terutama musim gugur (November, saat momiji) dan musim semi (April). Kalau Anda tinggal di Jepang atau punya kenalan yang bisa bantu telepon ke kantor kuil (jam kerja 09.00-16.00), itu jauh lebih cepat daripada surat-menyurat.

Jadwal Semalam di Kojirin

Check-in jam 13.00 di depan Kojirin, lalu briefing aturan selama 30 menit dalam bahasa Jepang (saya untung ada peserta lain yang mau menerjemahkan seadanya). Sesi zazen pertama jam 14.00 selama 40 menit, diselingi kinhin (jalan meditasi) 10 menit, lalu sesi kedua jam 15.00. Jam 17.00 makan malam shojin ryori dengan tata cara oryoki. Jam 19.00 ada ceramah singkat (teisho) dari salah satu biksu senior tentang satu koan. Lampu padam jam 21.00 tepat, tidak ada toleransi. Jam 04.00 pagi, bel kayu han dipukul keliling aula membangunkan semua orang untuk zazen subuh jam 04.30 selama 30 menit di udara yang masih gelap dan dingin, bahkan di bulan Mei tangan saya kaku. Sarapan bubur okayu jam 06.30, dilanjutkan sesi penutup dan pembersihan aula sebelum bubar jam 08.00.

Soal Makan: Oryoki, Bukan Prasmanan

Makan di Kojirin pakai set mangkuk oryoki yang harus dibuka dan dilipat dengan urutan tertentu, dan Anda wajib menghabiskan setiap butir nasi tanpa sisa karena di akhir makan air pencuci mangkuk juga diminum. Menu dinner saat saya ikut: nasi, sup miso dengan daikon, tahu rebus, dan acar nasu. Tidak ada daging, ikan, bawang putih, atau bawang bombay sama sekali, sesuai prinsip shojin ryori. Kalau Anda punya alergi atau pantangan makanan di luar itu, sampaikan saat mendaftar lewat kartu pos, bukan dadakan di hari H.

Fasilitas dan Kondisi Kamar

Jangan bayangkan kamar privat dengan AC. Aula tidur berupa ruang tatami terbuka ukuran besar, futon ditata berjajar dengan jarak sekitar satu meter, dan pada malam musim dingin hanya ada pemanas kerosene kecil di sudut ruangan. Toilet dan wastafel di lorong luar, kondisinya bersih tapi sederhana model Jepang lama. Tidak ada shower atau ofuro untuk peserta program singkat ini, jadi saya cuma bisa lap badan dengan handuk basah di wastafel. Bawa handuk sendiri, karena kuil tidak menyediakan.

Biaya yang Perlu Disiapkan

Untuk program semalam dengan dua kali makan, biayanya sekitar 5.000-7.000 yen, dibayar tunai langsung saat check-in, tidak ada opsi kartu. Ini jauh lebih murah dibanding shukubo di Koyasan yang bisa 10.000-15.000 yen semalam, tapi memang fasilitasnya juga jauh lebih spartan. Kalau cuma ikut zazenkai harian tanpa menginap (ada setiap hari Minggu pagi jam 08.00 di Shoin, dekat Butsuden), itu gratis, tidak perlu daftar, cukup datang dan bayar tiket masuk kuil 500 yen.

Aturan yang Wajib Dipatuhi

  • Tidak boleh bicara selama sesi zazen dan makan, hanya isyarat tangan
  • Ponsel harus dimatikan total, bukan silent, dan disimpan di tas selama program berlangsung
  • Posisi duduk harus hanza (setengah teratai) atau seiza, kalau tidak sanggup boleh pakai kursi lipat kecil yang disediakan di belakang aula
  • Kalau punya tato besar, sebaiknya ditutup, karena beberapa pengurus kuil masih sensitif soal ini meski tidak ada larangan tertulis
  • Tidak boleh memotret di dalam Kojirin selama sesi berlangsung, hanya boleh di halaman luar

Tips Praktis dari Pengalaman Saya

Bawa kaos kaki tebal karena lantai kayu di koridor menuju toilet dingin sekali terutama Oktober-Maret. Pakai celana longgar yang mudah dilipat untuk duduk hanza, jangan pakai jeans karena setelah satu jam duduk, lipatan jeans bikin kaki kebas parah. Kalau Anda gampang masuk angin, bawa plester koyo karena pemanas di aula minim. Datang lebih awal dari jam check-in untuk mampir dulu ke restoran shojin ryori Hachinoki yang lokasinya cuma 10 menit jalan kaki dari Kita-Kamakura ke arah Kenchoji, buka sekitar jam 11.00-14.30, karena porsi makan di Kojirin sendiri sangat sedikit dan tidak akan mengenyangkan kalau perut Anda belum terbiasa.

Kalau Tidak Kebagian Tempat

Program Kojirin kuotanya terbatas dan sering penuh jauh-jauh hari, jadi siapkan rencana cadangan. Zazenkai Minggu pagi gratis di Shoin tetap jalan tanpa reservasi. Selain itu, Tokeiji yang berada persis di seberang jalan Kita-Kamakura (jalan kaki 2 menit) juga kadang membuka kelas kaligrafi sutra (shakyo) untuk wisatawan tanpa perlu menginap, dengan biaya sekitar 1.500-2.000 yen, cocok kalau Anda hanya punya waktu beberapa jam di Kamakura.

Yang Perlu Diwaspadai Sebelum Memutuskan Ikut

Satu hal yang jarang disebut di artikel lain: program ini bukan untuk healing santai ala resort. Tidak ada yang menegur dengan lembut kalau Anda ketiduran saat zazen, biksu pengawas akan menepuk pundak dengan tongkat kyosaku, dan ini normal, bukan bentuk kekerasan. Kalau Anda datang berharap suasana foto-foto Instagram yang tenang dan estetik, siap-siap kecewa karena aturan larangan foto cukup ketat selama sesi. Pertimbangkan juga musim: bulan Juli-Agustus aula tidak ber-AC dan cukup panas-lembap meski jendela dibuka, sementara Desember-Februari dinginnya menusuk karena pemanas sangat terbatas. Kalau fisik Anda sensitif terhadap suhu ekstrem, pilih sesi April-Mei atau akhir September-awal November saja.

Photo by Andrea Sun on Unsplash